4 Kriteria Orang Yang Puasanya Sia-sia

4 KRITERIA ORANG YANG PUASANYA SIA-SIA

Mengapa begitu penting untuk membahas tema ini? Tidak lain adalah karena informasi dari Nabi SAW tentang orang-orang yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan pahala dari puasanya. Nabi SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy-shahih lighairihi).

Di antara kriteria puasa yang sia-sia (tidak diterima oleh Alloh Subhnahu wa Ta’ala):

1. Puasanya tidak ikhlas karena Allah (ada niat-niat lain dalam puasanya).

Puasa adalah ibadah. Maka setiap ibadah memiliki timbangan/ syarat-syarat yang menjadi barometer ukuran apakah ibadah itu diterima atau tidak diterima. Yaitu Ikhlas dan benar (ittiba’).

  Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“(Dialah Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al-Mulk: 2)

Menjelaskan ayat di atas, Fudhail bin Iyad rahimahulloh mengatakan,

أَخْلَصُهُ وَ أَصْوَبُهُ

“(Yang lebih baik amalnya) yaitu yang paling ikhlas dan paling shawab (tepat).

Kemudian para shahabatnya bertanya:

يَا أَبَا عَلِيِّ، مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ؟ 

“Wahai Abu ‘Ali, apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlash dan shawab itu?”

Beliau menjawab:

إِذَا كَانَ الْعَمَلُ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ إِذَا كَانَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ

“Apabila sebuah amal khalis (ikhlas), tetapi tidak shawab (benar), niscaya tidak akan diterima. Apabila sebuah amal shawab, tetapi tidak khalis, niscaya tidak diterima hingga amal tersebut khalis dan shawab. Khalis berarti amal tersebut karena Allah semata. Sedangkan shawab berarti amal tersebut berdasarkan sunnah.”

Allah SWT berfirman,

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus,…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan ihtisab niscaya dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih).

Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas, “Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

2. Berpuasa tanpa ilmu.

Semua ibadah kita harus didasari dengan ilmu, sebab ibadah tanpa ilmu akan tertolak.

Nabi sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan amalan yang tidak didasari perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Begitu pula dengan ibadah puasa, kita harus memiliki ilmu tentang ibadah puasa Ramadhan, seperti ilmu tentang syarat sahnya puasa Ramadhan, rukun puasa Ramadhan, sunnah-sunnah puasa Ramadhan sampai kepada hal-hal yang membatalkan puasa Ramadhan beserta kafaratnya.

Imam al Bukhari rahimahullah menulis satu bab di dalam kitabnya tentang العِلْمُ قَبْلَ القَوْلُ وعَمَل “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan العِلْمُ إِمَامٌ عَمَل “Ilmu adalah imam bagi amal” dan Imam az-Zuhri  mengatakan

مَا عُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنَ العِلْمِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk beribadah kepada Allah selain daripada ilmu”.

Perkataan para ulama tersebut mengisyaratkan akan pentingnya ilmu sebelum kita melaksanakan berbagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Berpuasa tapi tidak mengerjakan shalat

Ini merupakan kesalahan yang besar. Sebab sholat adalah tiang agama dan rukun Islam yang paling agung setelah syahadat. Jauh lebih ringan meninggalkan puasa daripada meninggalkan sholat.

Oleh karena itu, sungguh keliru jika seseorang berpuasa tetapi meninggalkan sholat. Bahkan orang yang meninggalkan sholat puasanya tidak sah dan tidak diterima, karena orang yang meninggalkan sholat hukumnya kafir dan murtad. Hal ini berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِۗ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudara kalian seagama..” (QS. at-Taubah [9]: 11)

Rosululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami (kaum Muslimin) dan mereka (orang-orang munafik) adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Ini adalah pendapat kebanyakan sahabat, walau pun bukan ijma’ (kesepakatan bulat) mereka. ‘Abdulloh bin Syaqiq   -seorang tabi’in yang mulia- berkata: “Bahwasanya para sahabat Nabi Muhammad sollallohu ‘alayhi wa sallam tidak menganggap suatu amalan yang apabila ditinggalkan menjadi kafir kecuali sholat.”

4. Berpuasa tapi masih berkata dusta, sia-sia, jorok dan melakukan perbuatan maksiat.

Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim menjadi sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.

Berkata dusta atau memfitnah dan mengamalkannya

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan memfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

Yang lainnya, yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Apa yang dimaksud dengan lagwu?

Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه

“Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats?

Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”

Al Azhari mengatakan,

الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة

“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.

Kemudian, di antara amalan yang menjadikan ibadah puasa menjadi sia-sia adalah melakukan perbuatan maksiat/dosa.

Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram.

Ibnu Rojab Al Hambali berikut : 
“Ketahuilah, amalan taqorrub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, pentidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).

Jabir bin ‘Abdillah mengatakan : 
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah).

Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,

أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ

Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.

Perbuatan dosa di bulan Ramadhan dosanya lebih besar daripada perbuatan dosa di hari-hari selainnya.

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata,

سيئة في رمضان أعظم إثما من السيئة في غيره ، كما أن طاعة في رمضان أكثر ثوابا عند الله من طاعة في غيره

“Kejelekan pada bulan Ramadhan lebih besar dosanya daripada kejelekan pada bulan selainnya.  Hal ini sebagaimana ketaatan pada bulan Ramadhan lebih besar pahalanya di sisi Allah dibandingkan dengan ketaatan pada bulan selainnya.” (Al-Majmu’ 15/446)

Analoginya adalah bahwa ketika pendorong kemaksiatan kecil, akan tetapi seseorang tetap berbuat maksiat, maka dosanya lebih besar dari biasanya. Pada bulan Ramadhan pendorong kemaksiatan sangat kecil, karena setan-setan dibelenggu, semua orang dalam keadaan taat kepada Alloh.

Dan sebaliknya, sebuah ibadah ketika penghalangnya besar, maka pahalanya semakin besar. Seperti seorang pemuda yang tumbuh dalam peribadahan kepada Alloh mendapat keutamaan yang sangat besar. Karena masa muda adalah masa yang sangat besar godaannya.

Read Previous

SDIT AL HIDAYAH Cibinong Gelar Khotmul Qur’an Akbar

Read Next

10 Santri SMP AL HIDAYAH Lulus Tes Ujian Tahfiz Al-Qur’an di Kemenag Bogor

One Comment

  • ALHAMDULILLAH SYUKRON UST ATAS ILMU NYA

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×