Ramadhan adalah karunia sangat indah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka seorang muslim harus mensyukurinya dan bergembira dalam menyambutnya.
Allah berfirman,
ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).
As-Sa’di rh berkata, “..Allah memerintahkan berbahagia dengan karunia dan rahmatNya karena hal itu memang menyebabkan kebahagiaan, semangat, serta bersyukur kepada Allah dan menambah kekuatan serta keinginan kuat bagi jiwa untuk meraih ilmu dan iman dan meningkatkan keduanya, ini adalah kebahagiaan yang dipuji, Lain halnya berbahagia dengan syahwat, kenikmatan dunia atau berbahagia dengan kebatilan..”
Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat menganggap indah dan mulianya karunia bertemu Ramadhan. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,
ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima mereka (amal-amal shalih di Ramadhan).” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)
Lihatlah bagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun memberi kabar gembira kepada para shahabatnya atas karunia terindah dari Alloh akan datangnya bulan Ramadhan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991))
Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya karunia terindah ini (Ramadhan).
Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,
هَذَا الْحَدِيثُ بِشَارَةَ لِعِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ بِقُدُومِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ بِقُدُومِهِ وَلَيْسَ هَذَا إِخْبَارًا مُجَرَّدًا بَلْ مَعْنَاهُ بِشَارَتِهِمْ بِمَوْسِمٍ عَظِيمٍ
( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 )
ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ
“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)
Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,
كَيْفَ لَا يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنُ بِفَتْحِ أَبْوَابِ الْجِنَانِ كَيْفَ لَا يُبَشِّرَالْمُذْنِبٌ بِغَلْقِ أَبْوَابِ النِّيرَانِ كَيْفَ لَا يُبَشِّرُ الْعَاقِلُ بِوَقْتٍ يَغِلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ مِنْ أَيْنَ يُشْبِهُ هَذَا الزَّمَانُ زَمَانٌ
“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)
Kenapa bertemu Ramadhan adalah karunia terindah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya? Ini karena banyaknya kemuliaan, keberkahan, dan keutamaan pada bulan Ramadhan
Mari kita simak bagaimana keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan;
Keagungan ni’mat Romadhon dibuktikan oleh sebuah hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu yang menuturkan:
“Ada dua orang laki-laki dari Negeri Qudha’ah masuk Islam di hadapan Nabi sollallohu ‘alayhi wa sallam. Yang pertama mati syahid, sedang yang kedua wafat setahun sesudahnya.
Thalhah bin Ubaidillah berkata; “Aku bermimpi melihat surga, aku melihat orang yang mati syahid didahului oleh temannya ketika masuk surga, aku heran karenanya.” Keesokan harinya aku sampaikan hal itu kepada Rasululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda: “Apakah yang kalian herani dari mimpi tersebut? Bukankah ia telah berpuasa Romadhon setelah kematian temannya, iapun telah shalat enam ribu roka’at atau sekian-sekian roka’at shalat sunnah?”
Para shahabat menjawab; “Benar”, Rasululloh sollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Perbedaan kondisi antara keduanya lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi’” (HR. Ahmad, 2/333. dinyatakan shahih oleh al-Albani). Suatu gambaran bagaimana agungnya keutamaan mendapati bulan Ramadhan dan mengisinya dengan beragam amal ibadah.
Di antara keutamaan Ramadhan yang lainnya;
1. Diampuni dosanya yang telah lalu
Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa Romadhon karena iman dan ihtisab niscaya dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (Muttafaq ‘alaih).
Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa yang dimaksud karena iman (di dalam hadits ini -pent) adalah meyakini kebenaran kewajiban puasanya, sedangkan yang dimaksud dengan ihtisab adalah demi mencari pahala dari Alloh Ta’ala (lihat Fathul Baari cet. Daarul Hadits Juz IV hal. 136).
Kata رَمَضَانُ adalah masdar dari رَمْضَ yang berarti terbakar, kemudian dari kata ini ada الرَمْضَاءُ yang berarti sisa-sisa pembakaran.
Imam al-Qurtubi rahimahullah berkata:
إِنَّمَا سُمّيَ رَمَضَانُ لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوْبَ، أَيْ يَحْرِقُهَا بِالأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
“Bulan Ramadhan disebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia membakar dosa-dosa dengan amal shalih” (Tafsir al-Qurtubi, 2/291)
Pembakaran dosa-dosa itu semakin besar tatkala seseorang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan karena mencari pahala. Karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa shalat malam di bulan Ramadhan karena keimanan dan mencari pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu” (Muttafaqun ‘alaih)
Terbakarnya dosa-dosa itu semakin besar lagi ketika seseorang menghidupkan malam lailatul Qadar. ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam yang berbunyi:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar karena keimanan dan mencari pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)
2. Balasan istimewa bagi ibadah puasa
Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,
قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, “Semua amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih).
Al Imam An Nawawi menerangkan firman Alloh Ta’ala, “dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”: Ini menjelaskan betapa besar keutamaannya dan amat banyak pahalanya. (lihat Syarah Shohih Muslim jilid IV cet. Daar Ibnu Haitsam hal. 482).
Tafsir mengenai “Puasa itu milik-Ku” Ibnu Rajab berkata:
* Puasa adalah meninggalkan syahwat yang biasanya manusia condong kepadanya, juga meninggalkan hak-hak diri. Semua itu dilakukan karena Alloh Ta’ala. Hal ini tidak terdapat dalam ibadah yang lain selain puasa.
Misal ihram: meskipun tidak boleh hubungan suami istri tapi masih boleh makan dan minum, I’tikaf juga sama seperti ibadah ihram, Shalat: meskipun tidak boleh makan, minum, hubungan suami istri, tapi waktunya tidaklah lama.
* Puasa adalah rahasia antara hamba dan Robb, tidak ada yang mengetahui selain Dia, Karena puasa terwujud dari niat batin yang hanya diketahui oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, dan meninggalkan syahwat yang bisa terpenuhi ketika sendiri.
3. Pintu khusus di surga bagi orang yang berpuasa
Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar Royyaan, pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa masuk melalui pintu itu, tidak seorangpun yang masuk selain mereka. Apabila mereka telah masuk maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi orang yang masuk melewatinya.” (Muttafaq ‘alaih)
4. Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan
Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ
“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan yang dia bergembira dengannya: ketika berbuka dia bergembira dengan bukanya dan ketika berjumpa Robbnya dia bergembira dengan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)
* Orang yang berpuasa bergembira ketika berbuka, sebab jiwa manusia tercipta untuk cenderung kepada makanan, minuman dan hubungan seksual.
Ketika hasrat jiwa itu terlarang untuk dipenuhi pada sebagian waktu, kemudian diperbolehkan kembali di waktu yang lain, ia sangat bergembira atas kebolehan ini.
Terlebih lagi kebutuhan terhadap ketiganya telah memuncak. Kemudian diidzinkan dan disukai oleh Allah Ta’la.
* Pada saat berjumpa dengan Rabbnya adalah ketika kita mendapatkan simpanan pahala puasa dari Alloh . Kita tahu bahwa pahala manjadi sesuatu yang paling kita butuhkan pada saat itu. Dan yang istemewa dari pahala puasa adalah, tidak terhapus karena pemberlakuan qishash atas tindakan kezhaliman kepada orang lain di akhirat.
Sufyan bin Uyainah rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Pada hari Kiamat, Allah Ta’ala menghisab hamba-hamba-Nya dan memberlakukan qishash atas tindakan kezhaliman yang ia lakukan. Hal itu berlaku untuk seluruh amalnya kecuali puasa, Allah Ta’ala menanggung tindak kezhaliman yang masih tersisa, kemudian Dia masukkan hamba itu ke dalam Surga berkat puasa.”
5. Puasa memberi syafa’at kepada pelakunya
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ – رواه احمد
“Sesungguhnya puasa dan Al-Qur’an memberi syafa’at kepada pelakunya pada hari Kiamat. Puasa berkata, “Ya Tuhanku aku telah menahan hasrat makan dan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Berkata pula al-Qur’an, ”Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari tidur malam, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya. Nabi bersabda, “Maka keduanya diberikan izin untuk memberi syafaat.” (HR. Ahmad)
6. Lalilatul Qadar
Keutamaan Lailatul Qadar telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat al-Qadar dan hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam berikut ini:
1. Laitalul qadr lebih baik dari seribu bulan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadar [97]: 3)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ إِفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ فِيْهِ تَفْتَهُ فِيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ تَغْلُقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ تُغَلُّ الشَّيَاطِيْنِ وَفِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَمَنْ حُرِمَتْ فَقَدْ حُرِمَ (( رَوَاهُ أَحْمَدٌ ))
Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi saw selalu memberi kabar gembira kepada para shahabatnya: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Alloh mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang diharamkan mendapat kebaikan malam itu maka ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad, 2/230)
Ummat Nabi Muhammad adalah ummat akhir zaman, usia hidup kita terbatas pada kisaran 60 sampai 70 tahun saja. Sedikit sekali orang yang mencapai usia 70 tahun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَابَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَي السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَالِكَ
“Usia ummatku antara enam puluh hingga tujuh puluh (tahun) dan sangat jarang sekali dari mereka yang usianya lebih dari itu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani)
Berbeda dengan ummat-ummat terdahulu, umur mereka bisa mencapai ratusan tahun. Mereka dapat menggunakan usia panjang tersebut untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Nuh ‘alayhissalam berdakwah dan tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun فَلَبِثَ فِيْهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا (“..maka dia (Nabi Nuh) tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun..” [QS. Al-‘Ankabut: 14]). Sebuah usia yang sangat fantastis dalam ukuran kita.
Akan tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Adil dan Maha bijaksana telah menjadikan satu malam bagi kita yaitu malam yang mulia pada bulan Ramadhan sebagai gantinya. Seandainya ummat ini menggunakan dan mengerahkan kesungguhan semaksimal mungkin untuk mendapatkan satu malam tersebut, maka ummat ini akan hidup dengan umur yang pendek tapi amal shalihnya dapat menyamai atau bahkan melebihi amal shalih ummat-ummat terdahulu sebelum kita. Maka benarlah kata Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bahwa ummat ini adalah ummat yang paling utama pada hari kiamat nanti dan akan masuk surga yang pertama kali sebelum ummat-ummat yang lainnya.
2. Pada malam itu para Malaikat dan Jibril ‘alayhissalam turun ke dunia.
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (٤)
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadar: 4)
Turunnya para Malaikat dan Jibril pada malam lailatul qadr adalah karena banyaknya keberkahan pada malam itu dan Malaikat turun bersamaan dengan turunnya rahmat dan barakah tersebut. Sebagaimana mereka turun ke sisi orang yang membaca al Qur’an, mereka juga akan mengepakkan sayapnya untuk membenarkan dan mengagungkan orang tersebut.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لَيْلَةُ القَدْرِ لَيْلَةُ السَّابِعَةِ، أَوِالتَّاسِعَةِ وَعِشْرِيْنَ، وَإِنَّ المَلَئِكَةَ تِلْكَ لَيْلَةُ أَكْثَرُ فِي الأَرْضِ مِنَ العَدَدِ الحَصَى
“Lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh atau kedua puluh Sembilan, dan para malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak dari jumlah kerikil.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)
3. Melimpahnya kesejahteraan hingga terbit fajar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (٥)
“Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 5)
Seluruh malam pada saat itu penuh dengan kebaikan, tiada keburukan di dalamnya. Mujahid rahimahullah berkata, “Dalam firman Allah shubhanahu wa ta’ala “salaamun hiya” maksudnya adalah, karena keselamatan, setan tidak dapat berbuat buruk atau merintanginya.”
4. Siapa saja yang menghidupkan malam lailatul qadr dengan keimanan dan mencari pahala dari Allah, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar karena keimanan dan mencari pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Makna “imaanan” adalah pembenaran bahwa lailatul qadr itu hak (benar adanya), dengan berusaha mencari keutamaannya. Dan makna “ihtisaaban” berkeinginan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, tidak bermaksud agar dilihat orang atau lainnya yang menyelisihi keikhlasan. Dan maksud “Qiyaaman” adalah shalat tarawih yang telah disepakati oleh para ulama sebagai sunnah.
Imam an-Nawawi juga berkata: “Maksud penghapusan dosa, yaitu jika pelakunya memiliki keburukan, maka dosa-dosa kecilnya dihapus, atau dosa-dosa besarnya diperingan. Dan jika ia tidak memiliki dosa, maka kedudukannya di surga akan ditinggikan.
Persiapan Sebelum Masuk Ramadhan
1. Iman
Yang dimaksud di sini adalah kita harus mengimani wajibnya shaum Ramadhan bagi setiap muslim. Kewajiban tersebut berdasarkan al Qur’an, Hadits dan ijma’ seluruh kaum muslimin.
Di dalam al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)
2. Ilmu.
Yaitu ilmu tentang ibadah puasa Ramadhan, seperti ilmu tentang syarat sahnya puasa Ramadhan, rukun puasa Ramadhan, sunnah-sunnah puasa Ramadhan sampai kepada hal-hal yang membatalkan puasa Ramadhan beserta kafaratnya.
Imam al Bukhari rahimahullah menulis satu bab di dalam kitabnya tentang العِلْمُ قَبْلَ القَوْلُ وعَمَل “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan العِلْمُ إِمَامٌ عَمَل “Ilmu adalah imam bagi amal” dan Imam az-Zuhri mengatakan “Tidak ada sesuatu yang lebih utama untuk beribadah kepada Allah selain daripada ilmu”.
Perkataan para ulama tersebut mengisyaratkan akan pentingnya ilmu sebelum kita melaksanakan berbagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Tamrinul ‘amal (latihan amal/ pembiasaan amal)
Mulai saat ini kita berusahaha memperbanyak amal ibadah, seperti memperbanyak shaum sunnah, memperbanyak membaca al-Qur’an, membiasakan shalat malam, melatih bershadaqah, dan memperbanyak amal ibadah yang lainnya. Dengan begitu insyaallah, ketika bulan Ramadhan tiba kita lebih ringan untuk melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sebelumnya kita sudah terlatih untuk beramal ibadah.
Ada ungkapan yang mengatakan “Bulan Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban adalah bulan mengairi, Ramadhan adalah bulan memetik buah. Bila kita ingin memetik buah di bulan Ramadhan maka harus ada benih yang ditanam di bulan Rajab dan benih itu harus terus disirami di bulan Sya’ban”. Sehingga kita akan memetik hasilnya di bulan Ramadhan dengan kenikmatan beribadah di dalamnya.
4. Memotivasi diri sendiri dan kaum Muslimin.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam banyak mentarghib para shahabatnya ketika bulan Ramadhan telah datang kepada mereka. Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ إِفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ فِيْهِ تَفْتَهُ فِيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ تَغْلُقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ تُغَلُّ الشَّيَاطِيْنِ وَفِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ وَمَنْ حُرِمَتْ فَقَدْ حُرِمَ ((رَوَاهُ أَحْمَدٌ))
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang diharamkan mendapat kebaikan malam itu maka ia telah diharamkan.” (HR. Ahmad).
Pada saat pintu-pintu Surga terbuka lebar, pintu-pintu neraka tertutup rapat, maka inilah saat yang tepat, harapan yang besar untuk bisa masuk ke dalam Surga-Nya dan lari, menjauh agar selamat dari Neraka-Nya.
Dan banyak hadits-hadits yang lain yang memotivasi kita untuk memaksimalkan bulan Ramadhan dengan amal-amal shalih.









