HATI YANG SELAMAT (QALBUN SALIIM)
Di dalam diri manusia terdapat dua unsur; unsur jasmani dan rohani. Unsur jasmani ditandai oleh jasad/ tubuh, sedangkan unsur rohani tercermin oleh hati. Masing-masing memiliki kadar dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Jika seseorang hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani saja, maka ia tak ubahnya seperti binatang. Sebagaimana jasmani, rohani juga akan bermasalah jika kebutuhannya terabaikan.
Tidak dipungkiri bahwa hati juga dapat mengalami seperti yang dialami oleh tubuh manusia, seperti; sakit, sehat, hidup, bahkan mati. Sehingga ada istilah hati yang sehat dan hati yang sakit.
Di kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan bersama-sama menyimak satu pembahasan yang sangat penting, yaitu “HATI YANG SELAMAT (QOLBUN SALIM)”. Ini menjadi penting, sebab tanpa qolbun salim, kita akan menjadi orang yang celaka dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan (membawa) hati yang salim (sehat).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
Tafsir Ibnu Katsir: Maksudnya adalah, hari ketika harta tidak mampu melindungi seseorang dari siksa Alloh, meskipun ia menebus dengan emas sepenuh bumi. Tidak pula anak-anak keturunannya, sekalipun ia menebusnya dengan seluruh manusia yang ada di muka bumi yang merupakan anak keturunannya. Tidak ada yang berguna pada hari itu kecuali hati yang bersih/ hati yang selamat.
Ini gambaran pada hari kiamat nanti bahwa harta dan anak-anak tidak akan dapat menebus seseorang dari adzab Alloh. Kita perhatikan berberapa ayat al Qur’an menerangkan tentang ini:
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ࣖ ۔
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 91)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَوْ اَنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لَافْتَدَوْا بِهٖ مِنْ سُوْۤءِ الْعَذَابِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ وَبَدَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مَا لَمْ يَكُوْنُوْا يَحْتَسِبُوْنَ
“Sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari azab yang buruk pada hari Kiamat. Tampak jelaslah bagi mereka (azab) dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar: 47)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يُبَصَّرُوْنَهُمْۗ يَوَدُّ الْمُجْرِمُ لَوْ يَفْتَدِيْ مِنْ عَذَابِ يَوْمِىِٕذٍۢ بِبَنِيْهِۙ ١١ وَصَاحِبَتِهٖ وَاَخِيْهِۙ ١٢ وَفَصِيْلَتِهِ الَّتِيْ تُـْٔوِيْهِۙ ١٣ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًاۙ ثُمَّ يُنْجِيْهِۙ ١٤
“(padahal) mereka saling melihat. Orang yang berbuat durhaka itu menginginkan sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, keluarga yang melindunginya (di dunia), dan seluruh orang di bumi. Kemudian, (dia mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (QS. Al-Ma’arij: 11-14)
Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُقَالُ لِلْكَافِرِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ، فَيَقُولُ نَعَمْ. فَيُقَالُ لَهُ قَدْ سُئِلْتَ أَيْسَرَ مِنْ ذَلِكَ..
“Pada hari kiamat orang kafir ditanya: ‘Andai kau memiliki emas sepenuh bumi, apakah akan kau jadikan penebus? ‘ ia menjawab: ‘Ya.’ Dikatakan padanya: ‘Kau pernah diminta yang lebih ringan darinya’.” (HR. Muslim)
Bermula dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ini (QS. As-Syu’ara: 88-89),
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan (membawa) hati yang salim (sehat).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)
kita tergerak untuk menggali apa yang dimaksud dengan qalbun saliim (hati yang selamat/sehat/bersih) itu? Sehingga kelak kita kembali kepada Alloh dalam keadaan baik dan selamat.
Berdasarkan sifatnya, para ulama membagi hati menjadi tiga macam: hati yang sehat, hati yang mati, dan hati yang sakit. Syaikh Dr. Ahmad Farid (Kitab Tazkiyatun nafs)
- Hati yang sehat (qalbun saliim)
Hati yang sehat ialah hati yang selamat dari setiap syahwat yang kontradiktif dengan perintah dan larangan Allah, serta dari setiap syubhat yang bertentangan dengan firman-Nya. Karena itu ia selamat dari penghambaan kepada selain-Nya dan dari ketetapan selain Rasul-Nya. Penghambaanya murni hanya untuk Allah SWT atas dasar keinginan, cinta, pasrah, penyerahan diri, perendahan diri, takut, raja’ (mengharap rahmat Allah), dan khasyyah (takut pada siksa-Nya).
Amal perbuatanya ikhlas karena Allah. Jika ia mencintai, cintanya hanya karena Allah. Bila ia membenci, bencinya karena Allah. Bila ia memberi, memberinya karena Allah. Dan jika ia tidak memberi, hal itu juga karena Allah.
Tidak pernah tunduk dan berhukum kepada setiap orang yang memusuhi Rasul-Nya. Hatinya terikat kuat untuk mengikuti Allah semata, dan tidak mengikuti seorang pun baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan bahwa hati yang bersih/sehat itu ialah bila pemiliknya mengetahui bahwa Allah adalah hak, dan hari kiamat pasti terjadi tiada keraguan padanya, dan bahwa Allah akan membangkitkan semua makhluk dari kuburnya.
Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Hati yang bersih ialah yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Mujahid dan Al-Hasan serta lain-lainnya mengatakan, hati yang bersih maksudnya bersih dari kemusyrikan.
Sa’id ibnul Musayyab mengatakan bahwa hati yang bersih ialah hati yang sehat, yaitu hatinya orang mukmin, karena hati orang kafir dan orang munafik sakit. Allah Swt. telah bertiman:
{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} “Dalam hati mereka ada penyakit”. (Al-Baqarah: 10)
Abu Usman An-Naisaburi mengatakan bahwa hati yang bersih ialah yang bersih dari bid’ah dan mantap serta tenang dengan sunnah.
- Hati yang mati (qalbun mayyit)
Hati yang mati ialah hati yang di dalamnya tiada kehidupan. Ia tidak mengenal Rabb-nya sehingga tidak menyembah-Nya sesuai perintah, serta tidak mencintai apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Bahkan, ia berjalan bersama syahwat dan kesenangan-kesenangannya, meskipun dimurkai Rabb-nya. Selama merasa senang dengan syahwatnya, ia tidak peduli apakah Rabb-nya Ridha atau murka.
Ia beribadah kepada selain Allah karena cinta, takut, mengharap, Ridha, menganggungkan dan merasa rendah. Bila cinta, cintanya karena hawa nafsunya. Bila marah, marahnya karena hawa nafsunya. Bila tidak memberi, hal itu dilakukan karena hawa nafsunya, sedangkan bila memberi, juga karena hawa nafsunya.
Intinya nafsunya lebih berpengaruh baginya daripada Ridha Rabb-nya. Pemimpinnya ialah nafsu, pengendalinya ialah syahwat, sopirnya ialah kebodohan, dan kendaraannya ialah lalai. Tujuan duniawi membuatnya tenggelam, sedangkan nafsu dan cinta dunia menjadikannya mambuk kepayang.
- Hati yang sakit (qalbun mariidh)
Ini adalah hatinya orang-orang kafir dan munafik, seperti dikatakan dalam ayat berikut:
{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} “Dalam hati mereka ada penyakit”. (Al-Baqarah: 10)
Hati yang sakit ialah hati yang hidup, tapi terjangkit penyakit. Terkadang hatinya condong pada kebaikan, namun terkadang berat pada kemaksiatan. Semua itu terjadi ketika ia mampu mengalahkan salah satu dari keduanya.
Di dalam hati tersebut ada cinta kepada Allah SWT, iman kepada-Nya ikhlas untuk-Nya, tawakkal kepada-Nya, dan itulah bahan yang menyebabkannya hatinya hidup. Namun, di dalamnya ada pula cinta dan pengutamaan terhadap syahwat (hawa nafsu), serta ia memiliki Hasrat kuat untuk meraihnya.
Ia seringkali iri (kepada orang lain), ujub (kagum pada diri sendiri), sombong, suka membuat kerusakan di muka bumi, dan suka (berambisi) menjadi pemimpin. Itulah bahan yang menyebabkan hatinya rusak dan hancur.
Ia diuji dua penyeru; pertama, penyeru yang mengajaknya kepada Allah, Rasul-Nya dan kehidupan akhirat. Kedua, penyeru yang mengajaknya kepada kehidupan dunia. Dalam hal ini, ia hanya memenuhi ajakan yang paling dekat di antara keduanya. Karena hatinya sakit, maka ia akan memenuhi seruan yang kedua.
Tanda-tanda hati yang sakit
- Tidak mengenal Alloh, tidak mencintai-Nya, tidak rindu berjumpa dengan-Nya, tidak berserah diri kepada-Nya, tidak mengutamakan-Nya dan lebih mengutamakan syahwatnya daripada taat kepada Alloh.
Alloh SWT berfirman,
اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (QS. Al-Furqan: 43)
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jaatsiyah: 23)
Tidaklah dia menginginkan sesuatu melainkan akan melampiaskannya tanpa memandang rasa cinta dari Allah dan keridhaan-Nya atau kebencian dan kemurkaan-Nya. Atau yang dimaksud adalah dia menyembah apa yang dia inginkan (selain Alloh) dan dia anggap baik.
Al Hasan Al Bashri rahimahulloh mengomentari ayat tersebut, “Dia adalah orang munafik yang ketika menginginkan sesuatu melainkan ia akan menghampirinya!”
Sebagian ulama mengatakan, “itulah hati yang apabila menginginkan sesuatu, ia menurutinya. Lalu, ia mengarungi hidup di dunia ini seperti kehidupan binatang yang tidak mengetahui Rabb-nya dan tidak menyembah-Nya dengan menataati perintah dan larangan-Nya..”
- Tidak merasa sakit karena luka-luka maksiat.
Sebagaimana ungkapan, “Orang mati tidak merasakan sakit”.
Orang yang hatinya sakit akan selalu mengiringi kejelekan dengan kejelekan pula.
Al Hasan rahimahullah menjelaskan firman Allah SWT.
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka”. (QS. Al-Muthaffifin: 14) ia berkata, “Hal itu ialah dosa di atas dosa. Sehingga, hati menjadi buta. Ada pun hati yang hidup, ia selalu mengiringi kejelekan dengan kebaikan dan mengiringi perbuatan dosa dengan taubat”.
- Pemiliknya tak merasa sakit dengan kebodohan terhadap kebenaran.
Sebagaian ulama mengatakan, “Tidak ada dosa maksiat kepada Allah yang lebih jelek daripada kebodohan.” Dikatakan kepada Imam Sahl, “Wahai Abu Muhammad, apakah yang lebih jelek dari kebodohan?” Jawabnya, “Bodoh terhadap kebodohan (maksudnya, orang bodoh yang tidak tahu kebodohannya).”
Akibat dari kebodohan tentang agama adalah kerusakan dalam aqidah, ibadah dan muamalah. Akibat kebodohan Alloh disekutukan, akibat kebodohan berhala diagungkan, akibat kebodohan hukum Alloh disingkirkan, akibat dari kebodohan pemalsu-pemalsu agama bermunculan, dst.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِماَّ يُصْلِحُ
“Barang siapa beribadah kepada Allah tanpa didasari dengan ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan daripada perbaikan.”
- Pemiliknya beralih dari makanan-makanan bergizi kepada racun yang mematikan
Hati yang sehat akan mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan hati yang sakit lebih mengutamakan maksiat karena kecintaannya pada hal-hal yang dimurkai Allah dan Rasul-Nya. Mislanya orang yang lebih menyukai music daripada mendengarkan atau membaca Al Qur’an, lebih suka nonton hal-hal yang berbau maksiat daripada menyimak kajian/ webinar Islam, lebih suka bergunjing daripada berdiskusi masalah-masalah penting, dst.
- Pemiliknya menghuni dunia dengan perasaan Ridha, tenang, dan tidak merasa asing, serta tidak mengharap akhirat dan tidak beramal untuknya.
Setiap kali hati pulih dari sakitnya, ia akan “pergi” ke akhirat. Sementara hati yang sakit, penampilan lahirnya akan berbeda dengan batinnya. Pemilik hati yang sakit merasa tenang hidup di dunia dan tidak mengerjakan amal ibadah yang berguna bagi kehidupan akhiratnya. Padahal setiap manusia akan mati dan kembali kepada Allah SWT.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia laksana orang asing atau orang yang menyeberangi jalan” (HR. Bukhari)
Imam Ahmad rahimahulloh berkata,
الدُّنْيا دارُ عَمَلٍ، والآخِرةُ دارُ جَزاءٍ، فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ هُنا، نَدِمَ هُناك
“Dunia adalah negeri untuk beramal, sedangkan akhirat adalah negeri pembalasan. Sesiapa yang tak beramal di sini, ia pasti menyesal di sana.”
Tanda-tanda Hati Yang Sehat
- Banyak berdzikir kepada Allah SWT.
Hati manusia diibaratkan seperti periuk sedangkan lisan kita laksana gayungnya. Lisan akan mengeluarkan yang manis atau yang pahit adalah timbul dari dalam hati. Apabila hati manusia adalah hati yang bersih yang dipenuhi rasa cinta kepada Alloh, lisan pasti tergerak untuk melantunkan dzikir. Tapi jika hati dipenuhi hal-hal lain, seperti kekufuran, kesfasikan, dan durhaka kepada Alloh, maka lisan pun akan tergerak untuk (berbuat dosa), seperti; memfitnah, mengadu domba, serta berbuat keji dan kotor.
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَاوَهِيَ القَلْبُ
“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya menjadi baik, dan jika rusak, maka seluruh tubuhnya menjadi rusak pula, ketahuilah,(segumpal daging) itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdzikir merupakan ciri orang yang mencintai Alloh dan dicintai-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda;
أَنَا مَعَ عَبْدِيْ مَاذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ
“Aku beserta hamba yang selalu menyebut-Ku dan kedua bibirnya selalu bergerak (berdzikir)” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Al-Albani)
- Senantiasa pasrah (bersarah diri) kepada Allah dan bergantung kepada-Nya.
Sebagaimana orang yang dimabuk cinta yang bergantung kepada kekasihnya, maka tidak ada kehidupan, keberuntungan, kenikmatan, dan kesenangan baginya, kecuali dengan keridhaan, kedekatan, dan kasih sayangnya. Dengan-Nya ia merasa tenang, kepada-Nya ia mendapat kedamaian, dan kepada-Nya ia berlindung. Dengan-Nya ia bahagia, kepada-Nya ia pasrah, dengan-Nya ia berpagang, kepada-Nya ia berharap, dan kepada-Nya ia takut.
Oleh sebab itu, jika ia mendapati Rabb-nya ia merasa senang dan tenang, perasaan bimbang dan keluh kesah sirna, serta terpenuhi kebutuhannya. Karena di dalam hati terdapat kebutuhan, yang selamanya tak ada yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut selain Allah SWT.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
“Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
..وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ..
“..Dan barangsiapa yang bertawakkal (menyerahkan urusannya) kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..” (QS. Ath-Thalaq: 3)
- Ia rela tubuhnya letih untuk melayani Alloh (mengabdi kepada Alloh) dan hatinya tidak merasa jemu.
Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam pernah melakukan sholat hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam menjawab,
أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا
“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”
Yahya bin Mu’adz rohimahulloh berkata, “Barangsiapa senang melayani Alloh, segala sesuatu akan senang melayaninya. Barangsiapa matanya senang kepada Alloh, setiap mata akan senang melihatnya.”
Baiknya hati adalah dengan memenuhinya dengan kecintaan kepada Alloh. Barang siapa yang cinta kepada Alloh, ia akan senang melayani-Nya, dan pelayanannya itu akan menjadi energi bagi hati dan makanan bagi jiwanya.
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,
“Engkau bermaksiat kepada Alloh, tapi engkau mengharap cinta-Nya. Sungguh sebuah perumpamaan yang indah; bila cintamu jujur, niscaya engkau akan menaati-Nya. Karena yang jatuh cinta biasanya taat kepada yang dicintainya”.
Kerinduannya melayani Alloh melebihi kerinduan orang lapar terhadap makanan dan minuman. Apabila seorang hamba telah merasakan manisnya interaksi dengan Allah SWT dengan melanggengkan ketaatan, ia akan cinta terhadap ketaatan. Sedikit pun ia tidak bisa lepas darinya. Bila ia mendapati dirinya luang dan tidak melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT, dadanya terasa sempit. Dan hatinya memotivasinya untuk berbuat taat kepada Alloh SWT.
- Kekikirannya menggunakan waktu untuk menaati Alloh, melebihi orang yang paling kikir terhadap harta.
Karena, modal utama seorang hamba adalah hembusan-hembusan nafasnya. Setiap hembusan nafasnya laksana Mutiara berharga yang bisa digunakan untuk membeli harta karun yang tak pernah musnah. Karena itu, penyia-nyiaan yang dilakukan oleh temannya terhadap waktunya tersebut membuatnya hancur.
Orang yang hatinya sehat tidak akan merelakan semua itu, kecuali orang yang bodoh karena hatinya sakit.
Oran yang hatinya sehat, hanya akan mengisi waktu dan umurnya dengan menaati Alloh. Sebaliknya, ia pelit menggunakan waktu dan umurnya untuk selain menaati Alloh. Sehingga ia pun menjadi orang yang lebih pelit daripada orang yang paling pelit terhadap hartanya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976).
- Bila luput melakukan satu ketaatan, ia merasa rugi.
Kerugian yang ia rasakan bahkan melebihi orang yang bakhil ketika kehilangan keluarga dan hartanya. Sebab ia tahu, kerugian tersebut merupakan kerugian akhirat. Sedangkan kerugian dunia sangat tidak sebanding dengan kerugian akhirat. Cepat atau lambat, harta benda dunia pasti akan musnah, sementara apa yang ada di sisi Alloh tidak pernah sirna. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ ۖ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Alloh adalah kekal…” (QS. An-Nahl: 96)
Apa bila seorang saudagar terluput dari transaksi penjualan yang memiliki nilai laba dua puluh tujuh juta yang ada di suatu kota, tentu ia akan sangat menyesal. Karena itu orang yang tidak menunaikan sholat berjama’ah yang pahalanya dua puluh tujuh kali lipat lebih banyak daripada shalat sendirian, tetapi ia tidak menyesalinya, hal itu merupakan ciri hati yang sakit. Sebab, mengagungkan perintah dan larangan termasuk ciri hati yang sehat.
- Pemiliknya (pemilik hati yang sehat) menjadikan tujuannya hanya untuk Alloh semata.
Faktor terkuat yang menggerakkan seorang hamba dari dalam dirinya ialah cinta kepada Alloh dan pengharapan melihat Wajah-Nya yang Mulia. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ
“Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhoan Robb-nya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (surga).” (QS. Al-Lail: 19-21)
Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu berkata, “Barang siapa disibukan oleh perkara agamanya, Alloh akan memberinya kecukupan dalam perkara dunianya. Barangsiapa yang berbuat baik dalam keadaan sepi, Alloh akan berbuat baik kepadanya dalam keadaan ramai. Barangsiapa memperbagus hubungan antara dirinya dan Alloh, niscaya Alloh akan memperbagus hubungan antara dirinya dan manusia.
- Hal yang paling dicintainya ialah Kalamulloh dan membicarakan tentangnya.
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang ingin mengetahui apakah dirinya mencintai Alloh, hendaknya ia menghadapkan dirinya pada Al-Qur’an. Bila ia mencintai Al-Qur’an, itu artinya ia cinta kepada Alloh. Sebab, Al-Qur’an ialah Kalamulloh (firman Alloh).”
Utsman bin ‘Affan rodhiyallohu ‘anhu menjelaskan,
لَوْطَهُورَت قُلُوبُنَا لَمَّا شَبِعَتْ مِنْ كَلَامِ رَبِّنَا
“Apabila hati kita bersih, ia tidak akan merasa kenyang dengan firman Robb kita.”
Cara Mendapatkan Qalbun Salim (Hati Yang Sehat/Selamat)
Selanjutnya berikut ini adalah cara agar mendapatkan qalbun salim yakni hati yang selamat dari kotoran- kotoran:
- Thalabul Ilm (menuntut ilmu syar’i)
Ini adalah cara yang paling penting agar seseorang mendapatkan hati yang selamat. Seseorang tidak akan mendapatkannya jika dia tidak mau belajar, karena ada kemungkinan seseorang melakukan kesalahan karena dia tidak tahu. Jika dia tidak tahu tentang tauhid maka dia akan terjerumus kepada kesyirikan. Jika dia tidak tahu jalan, kemungkinan dia akan tersesat.
Thalabul ilm adalah wasilah utama untuk mendapatkan qalbun salim. Adapun ilmu yang harus didahulukan untuk dipelajari adalah tentang aqidah (tauhid). Allah berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Penyakit-penyakit yang ada di dalam hati obatnya adalah Al-Qur’an. Kenapa dinamakan obat? Karena di situ ada هُدًى yaitu petunjuk. Penyakit-penyakit yang tadi disebutkan seperti kesyirikan, kekufuran, kebid’ahan, aqidah yang sesat, dan lain-lainnya akan hancur apabila kita mempelajari Al -Qur’an. Allah mengatakan,
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌۭ وَرَحْمَةٌۭ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًۭا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra:82)
- Berdoa kepada Allah
Selipkan dalam doa kita untuk meminta hati yang selamat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا
“Ya Allah aku meminta kepadamu hati yang selamat“.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa,
اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
“Ya Allah, karuniakan ketakwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya, Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya“. (HR. Muslim no. 2722)
Do’a terhindar dari kesyirikan
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.
- Memperbanyak istighfar
Disebutkan di dalam hadits apabila seseorang melakukan dosa akan ada titik hitam dalam hatinya. Ketika kemudian dia beristighfar, maka Allah akan menghilangkan titik hitam tersebut.
Kalau dia beristighfar hanya untuk dosa itu saja maka itu saja yang dihilangkan oleh Allah. Tapi kalau dia mengatakan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لي ذَنْبِي كُلَّهُ: دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ
“Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku yang kecil dan besar, yang telah lewat dan yang akan datang, yang telah kulakukan terang-terangan dan yang tersembunyi“. (HR. Muslim no. 483)
Maka akan diampuni seluruh dosa yang dia sebutkan di dalam ucapannya tadi.
Lafadz istighfar yang paling baik menurut para ulama di akhir hayat beliau adalah اللهم اغفر لي وتب علي digabungkan di sini antara istighfar dengan taubah. Sebagaimana firman Allah:
إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ ۞ وَرَأَيۡتَ ٱلنَّاسَ يَدۡخُلُونَ فِي دِينِ ٱللَّهِ أَفۡوَاجٗا ۞ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُۚ إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat.” (QS. An-Nasr: 1-3)
- Banyak mengingat kematian
Di antara penyakit hati adalah cinta dunia, bukan hanya kemaksiatan atau bid’ah. Seseorang menjadikan dunia ini di dalam hatinya sehingga menjadikan akhiratnya, ini salah satu penyakit hati yang harus segera dibersihkan dalam diri seseorang. Kenapa seseorang terlihat tamak dengan dunia, tidak habis-habisnya dia dengan dunia. Salah satu sebabnya karena dia lupa dia akan meninggal dunia, seakan-akan dia selamanya di dunia ini sehingga dia rakus dan tamak keadaannya.
Ketika seseorang mengingat kematian dia akan menjadi orang yang qana’ah, merasa cukup dan tidak tamak dengan dunia ini karena dia yakin dia akan kembali dan meninggalkan semua perkara ini dan setelah ini akan ada hisab dan harus mempunyai bekal untuk menuju ke sana. Di antara caranya seseorang sering berziarah kubur, “Hendaklah kalian ziarah kubur, karena ziarah kubur mengingatkan akan kematian” kata Nabi H.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita agar memperbanyak mengingat mati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺫِﻛْﺮَ ﻫَﺎﺫِﻡِ ﺍﻟﻠَّﺬَّﺍﺕِ ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi).
Mengingat kematian juga memiliki beberapa manfaat, beberapa ulama menyebutkan manfaat-manfaat tersebut. Ad-Daqqaq Rahimahullah menjelaskan,
من أكثر من ذكر الموت أكرم بثلاثة أشياء: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة. ومن نسي الموت عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة، وترك الرضى بالكفاف، والتكاسل في العبادة
“Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) bersegera dalam bertaubat, (2) hati yang qanaah, (3) bersemangat melakukan ibadah. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rida terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) malas beribadah” (At-Tadzkirah, 1: 27).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ
“Orang yang pandai adalah orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).
Semoga kita diberikan qalbun salim, sehingga kita kembali kepada Alloh dalam keadaan selamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Ingatlah) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan (membawa) hati yang salim (sehat).” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)









